PERAN HUKUM ADAT SUKU DAYAK

Peran Hukum Adat dalam Masyarakat Dayak

Jika berada ditengah-tengah masyarakat Dayak, dimanapun kita berada, suku Dayak memiliki tradisi Hukum Adat dimasing-masing suku mereka. Bagi setiap pelanggar Hukum Adat, maka bersiap-siaplah untuk membayar denda.

Denda adat ini dapat bermacam-macam bentuknya, mulai dari menyerahkan Mandau, Gong, Piring Putih, Guci Tempayan, Kain, hingga memotong Babi atau Kerbau.

Menurut sesepuh Adat Dayak Kaltim, Laden Mering, makna dari membayar denda berupa mandau (senjata tajam suku Dayak), gong dan piring bagi pelanggar Hukum Adat adalah bentuk kiasan dari perlambangan.

Lanjutnya, Mandau melambangkan alat untuk berusaha, mencari rezeki, karena Mandau digunakan untuk bertani dan berladang. Sementara gong melambangkan bahwa pelanggar Hukum Adat telah diumumkan kepada masyarakat bahwasanya yang bersangkutan dinyatakan bersalah dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya, sementara Kain Putih atau Piring putih pertanda bahwa pelanggar Hukum Adat, perlu mendapat semacam pendampingan selama berada di masyarakat Dayak.

“Jadi Hukum Adat Dayak tidak menghukum seseorang secara membabi buta, tetapi tetap memberikan perlakuan yang adil terhadap pelaku dengan mendampinginya selama pasca dijatuhkannya hukum adat kepadanya,” jelasnya.

Pelanggaran-pelanggaran yang dapat dihukum adat seperti, selingkuh dan perzinahan, perkelahian, membunuh seseorang, membunuh hewan peliharaan seperti anjing atau babi serta banyak lagi pelanggaran lainnya.

Bahkan yang paling ramai dibicarakan seperti kasus penghinaan Peneliti Sosiolog dari Universitas Indonesia, Thamrin Amal Tamagola, yang dikenai Hukum Adat dengan cara meminta maaf langsung dan membayar denda adat berupa beberapa buah gong dan membayar uang pengganti sebesar Rp77.777 juta yang akan digunakan untuk berbagai kegiatan upacara adat seperti potong kerbau.

Maklum, harga kerbau dan babi saat ini harganya sangat mahal, apalagi jika dierlukanlebih dari satu ekor kerbau atau babi sebagai persembahan.

Penerapan hukum Adat ini menjadi penting karena adanya peran Kepala Adat yang telah diwariskan selama ratusan tahun.

Masyarakat Dayak dapat hidup rukun, damai dan tenteram tidak ada gejolak antar sesame mereka karena Suku Dayak hidup dlam sebuah tatanan hukum yang telah mereka sepakati bersama.

Kepala Adat adalah orang yang sangat dihormati, karena diyakini sebagai orang yang memiliki garis dan hubungan langsung dengan para dewa, sehingga apa yang menjadi titahnya, maka itulah hukum yang harus dipatuhi.

“Menjadi Kepala Adat haruslah orang yang memiliki sifat bijak tetapi tetapi juga berani mengambil keputusan. Ramah dan lembut bukan berarti takut dan mau mengalah.
Sayangnya, kini banyak dipilih Kepala Adat yang bukan dianggap sebagai pemilik keturunan langsung dewa, seperti pemilihan kepala adat secara langsung. Akibatnya banyak kepala adat yang hanya menjadi alat untuk mencapai tujuan sesaat,” ujarnya.

Bahkan menurut Prof Adri Patton yang merupakan Kepala Badan Perbatasan, Daerah Pedalaman dan Daerah Terpencil Provinsi Kaltim, sebelum tahun 1990 an hukum adat sangat membantu pihak kepolisian dalam penanganan kasus-kasus kriminal.
Karena daerah-daerah yang didiami suku Dayak sangat jauh dari peradapan dan perkamppungan penduduk, apalagi kantor polisi.

“Masyarakat hanya menyerahkan pelaku kejahatan kepada polisi ketika kasusnya adalah pembunuhan, sementara kasus-kasus lainnya ditangani secara hokum adat,” ucapnya.

Kelemahan hukum adat, menurutnya adalah hokum ini tidak dapat menyesuaikan dengan perkembangan jaman.

“Misalnya untuk kasus perselingkuhan, seseorang dapat didenda dengan Mandau, piring dan tempayan. Bagi masyarakat Dayak, benda-benda tersebut sulit didapat dan nilainya tinggi, tetapi tidak bagi pendatang yang bekerja di perusahaan-perusahaan besar di tengah hutan, mereka dengan mudah membayar denda manakala melakukan perselingkuhan atau perzinahan dengan penduduk setempat” jelasnya.(yuliawan andrianto)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s