MITOS : PESUGIHAN GUNUNG KAWI

Pesugihan. Kata ini, sering kali muncul di kalangan masyarakat, terutama bagi etnis Jawa. Maklum saja, pesugihan memang berasal dari bahasa jawa. Artinya adalah alat atau cara untuk menjadi kaya. Biasanya, orang Jawa mendengar kata pesugihan, langsung mengarah kepada tuyul, babi ngepet dan jin. Diharapkan dari bantuan makhluk gaib itulah, sang pencari pesugihan akan mendapatkan kekayaan.

Bagi masyarakat yang gemar akan cerita mistis atau misteri, pasti pernah mendengar nama Gunung Kawi, yang ada di kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kawasan Gunung Kawi, yang terletak di ketinggian 500 sampai dengan 3000 meter di atas permukaan laut ini dikenal sebagai tempat berburu berkah atau pesugihan. Hampir di setiap harinya, kawasan Gunung Kawi, selalu didatangi oleh peziarah, baik dari dalam maupun luar kota Malang.

Berdasarkan referensi yang ada, kawasan Gunung Kawi, dulunya disebut Ngajum. Namanya berubah menjadi Wonosari karena di tempat ini terdapat makam Eyang Raden Mas Kyai Zakaria alias Mbah Jugo, dan Raden Mas Imam Sujono, alias Mbah Sujo.

Dalam bahasa Jawa, Wono memiliki makna hutan, sedangkan Sari berarti inti. Namun bagi warga setempat, Wonosari dimaksudkan sebagai pusat rezeki yang dapat menghasilkan uang secara cepat. Kecamatan Wonosari sendiri memiliki luas hampir 67 kilometer persegi, dengan jumlah penduduk 43 ribu jiwa.

Sejarah Gunung Kawi

Kawasan Gunung Kawi dinilai memiliki sejarah dalam perkembangan jaman kerajaan di Indonesia. RM Nanang Yuwono Hadiprojo, yang merupakan keturunan ke 5 RM Imam Sujono mengatakan, kronologi sejarah wisata ritual Gunung Kawi dimulai pada tahun 1830, setelah Pangeran Diponegoro menyerah pada Belanda.

Pada saat itu, banyak pengikut dan pendukung Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke arah bagian timur pulau Jawa yaitu Jawa Timur. Di antaranya Eyang Djoego atau Kyai Zakaria. Mereka pergi ke berbagai daerah, seperti Pati, Begelen, Tuban, dan Kepanjen, Kabupaten Malang.

Eyang Djoego dalam pengembarannya, juga mencapai dusun Djoego, Desa Sanan, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar. Eyang Djoego diperkirakan sampai di Dusun Djoego sekitar ± tahun 1840. Selama berada di dusun Djoego, ia ditemani sesepuh Desa Sanan bernama Ki Tasiman.

Setelah berdiam di dusun Djoego, antara dekade tahun 1840-1850, datanglah murid Eyang Djoego, yang juga putra angkatnya, yakni R.M. Jonet atau R.M. Iman Soedjono.  R.M Iman Soedjono sendiri adalah salah satu dari para senopati Pangeran Diponegoro yang ikut melarikan diri ke Jawa Timur.

Setelah kedatangan R.M. Iman Soedjono, beberapa tahun kemudian atau tepatnya di tahun 1850-1860, datanglah murid R.M. Iman Soedjono yang bernama Ki Moeridun dari Warungasem Pekalongan. Mereka berdua, akhirnya diperintah oleh Eyang Djoego untuk pergi ke Gunung Kawi di lereng sebelah selatan. Tujuannya adalah membuka hutan lereng selatan Gunung Kawi.

“Kanjeng Eyang Djoego juga berpesan kepada dua muridnya itu, kalau di tempat pembukaan hutan itulah beliau ingin dikramatkan (dimakamkan). Eyang Djoego juga berpesan, di desa itulah kelak akan menjadi desa yang ramai dan menjadi tempat pengungsian (imigran),” ujar R.M. Nanang Yuwono.

Dalam  membuka hutan di lereng selatan Gunung Kawi, RM. Iman Soedjono dan Ki Moerdiun juga ditemani oleh beberapa rombongan lainnya. Mereka saling bergotong royong membuat rumah untuk dijadikan padepokan. Di padepokan inilah, R.M. Iman Soedjono, Ki Moeridun dan seluruh anggota rombongan berunding untuk memberi nama tanah babatan itu. Karena yang memimpin pembabatan hutan, bernama Ki Wonosari, maka disepakati nama daerah babatan itu adalah dusun Wonosari.

Setelah merasa pembabatan hutan dilereng selatan Gunung Kawi selesai, maka diutuslah salah satu pengikut R.M Iman Soedjono pulang ke dusun Djoego, Desa Sanan, Kesamben, Blitar untuk melaporkan perkembangan babat hutan kepada Eyang Djoego. Setelah mendengar laporan itu, berangkatlah Kanjeng Eyang Djoego ke dusun Wonosari di lereng selatan Gunung Kawi.

Singkat cerita, pada hari Senin Pahing tanggal Satu Selo Tahun 1817 M, Kanjeng Eyang Djoego wafat. Jenasahnya dibawa dari Dusun Djoego Kesamben ke dusun Wonosari Gunung Kawi, untuk dimakamkan, di gumuk (bukit) Gajah Mungkur di selatan Gunung Kawi. Jasadnya tiba di Gunung Kawi pada hari Rabu Wage malam, dan dimakamkan pada hari Kamis Kliwon pagi.

Dengan wafatnya Kanjeng Eyang Djoego pada hari Senin Pahing, maka pada setiap hari Senin Pahing diadakan sesaji dan selamatan oleh R.M. Iman Soedjono. Apabila, hari Senin Pahing tepat pada bulan Selo (bulan Jawa ke sebelas), maka selamatan yang diikuti oleh seluruh penduduk Desa Wonosari digelar pada pagi harinya. Kegiatan ini sampai sekarang dikenal dengan nama Barikan.

Sejak meninggalnya Kanjeng Eyang Djoego, Dusun Wonosari menjadi banyak pengunjung, dan banyak pula para pendatang yang menetap di Dusun Wonosari. Oleh R.M. Iman Soedjono para pendatang diarahkan ke barat Dusun Wonosari .

Dengan bertambah luasnya dusun dan bertambah banyaknya jumlah penduduk, maka diadakan musyawarah untuk mengangkat seorang pamong yang bisa menjadi panutan masyarakat dalam mengelola dusunnya yang masih baru itu. Maka ditunjuklah salah seorang abdi R.M.Iman Soedjono yang bernama Mbah Warsiman sebagai bayan dan pamong pertama di Dusun Wonosari.

Antara tahun 1871-1876, datang seorang wanita berkebangsaan Belanda bernama Scuhuller (seorang putri Residen Kediri) untuk berobat kepada  R.M Iman Soedjono. Setelah sembuh Schuller tidak pulang ke Kediri melainkan menetap di Wonosari dan mengabdi pada R.M. Iman Soedjono sampai wafat di tahun 1876.

R.M Iman Soedjono sendiri wafat pada hari Rabu Kliwon tahun 1876 Masehi. Ia dimakamkan berjajar dengan makam Kanjeng Mbah Djoego di Gumuk Gajah Mungkur.

Karomah Gunung Kawi

Berkunjung ke kawasan Gunung Kawi, suasana magisnya sangat terasa. Bau asap dupa tercium di mana-mana. Terutama di Klenteng Dewi Kwan Im, dan makam RM. Iman Soedjono. Pengunjung yang datang ke Gunung Kawi bisa memilih tempat ritual yang sesuai dengan kepercayaan mereka. Bagi mereka yang beragama Khonghucu, akan melakukan ritual di dalam Klenteng Kwan Im. Sedangkan bagi mereka yang beragama di luar Khonghucu, akan menjalankan ritual di berbagai kompleks makam di kawasan Gunung Kawi.

Menurut Nanang, biasanya masyarakat melakukan pemujaan di keraton ini pada hari Kamis Legi, Jumat Kliwon dan malam Satu Suro. Pemujaan dilakukan dengan meletakkan sesaji, membakar dupa, dan bersemedi selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan hingga berbulan-bulan.

Nanang mengatakan, biasanya sejak Kamis sore para peziarah telah mulai berdatangan. Mereka berasal dari berbagai tempat, seperti Surabaya, Jakarta dan beberapa kota besar lainnya.  Bahkan ada yang datang dari luar Pulau Jawa.

Tidak ada persyaratan khusus untuk berziarah ke tempat ini, hanya membawa bunga sesaji, dan menyisipkan uang secara sukarela. Bahkan mitos yang berkembang adalagh semakin banyak mengeluarkan uang atau sesaji, semakin banyak berkah yang akan didapat.

”Secara umum tidak ada persyaratan khusus. Hanya saja untuk masuk ke makam keramat, para peziarah wajib bersikap seperti hendak menghadap raja, yakni berjalan dengan lutut,” terang Nanang.

Selain ritual di makam keramat dan klenteng, di kawasan Gunung Kawi, terdapat pohon dewa ndaru atau pohon kesabaran yang dianggap mendatangkan keberuntungan. Dari bentuknya, pohon ini mirip pohon cereme, dan diperkirakan berasal dari Cina. Eyang Jugo dan Eyang Sujo menanam pohon ini sebagai perlambang daerah ini aman.

Untuk mendapat keberuntungan, para peziarah menunggu dahan, buah dan daun jatuh dari pohon. Begitu ada yang jatuh, mereka langsung berebut. Namun, untuk mendapatkannya memerlukan kesabaran. Hitungannya bukan hanya, jam, bisa berhari-hari, bahkan berbulan-bulan.

Soal mitos pesugihan yang berkembang di Gunung Kawi, Nanang menegaskan itu adalah pandangan yang keliru. Menurut Nanang, tempat pesugihan memiliki beberapa kriteria, antara lain, tempatnya menyeramkan, jauh dari pemukiman masyarakat, dan tidak ada tempat ibadah. Sementara di Gunung Kawi, tempatnya tidak menyeramkan, dekat dengan pemukiman masyarakat, dan banyak tempat ibadah.

Nanang juga menegaskan, untuk menjadi orang kaya tidak perlu datang ke Gunung Kawi, melainkan harus bekerja keras dan pandai menabung. Baginya, melakukan ritual atau berdoa namun tanpa bekerja, tentu tidak akan bisa menjadi kaya. Meski begitu, Nanang mengaku ada beberapa peziarah yang menginginkan kekayaan, saat melakukan ritual di Gunung Kawi.

Pendapat senada juga diungkapkan Mbah Sarimin, salah satu warga yang biasa menjadi pemandu peziarah. Menurut dia, tidak benar jika Gunung Kawi dijadikan sebagai tempat untuk ritual pesugihan. Mbah Sarimin mengatakan, tempat yang bisa dijadikan sarana untuk ritual pesugihan memang berada tak jauh dari kompleks Gunung Kawi. Ia pun memberikan garansi, bagi peziarah yang memang menginginkan kekayaan.

”Kalau memang ingin kaya, saya bisa mengantarkannya. Tinggal peziarah memilih saja, apakah menginginkan Tuyul, Celeng (babi ngepet) atau ular, tempatnya tak jauh dari Gunung Kawi,” ungkap Mbah Sarimin.

Kembali ke Gunung Kawi, bagi para peziarah yang keinginannya terkabul, biasanya para peziarah akan datang lagi untuk melakukan syukuran.  Sepeti halnya pada saat Indo Suara datang kompleks Gunung Kawi, salah seorang peziarah dari Jawa Barat melakukan syukuran dengan menggelar wayang kulit. Selain menggelar wayang kulit, peziarah yang terkabul permohonan juga akan menggelar tumpengan atau memberikan sumbangan lilin ke Klenteng Kwan Im. Ada juga yang berbagi rejeki dengan para pengemis di kompleks Gunung Kawi. (yw)

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s